Minggu, 30 Desember 2018

Wonderfull Demak

Demak
"Wujud akulturasi budaya kala itu"



"Masjid Agung Demak"

Merupakan masjid pertama yang didirikan Raden Patah sebagai pusat syiar Islam dan bertemunya para wali songo untuk menyusun strategi penyebaran ajaran Islam di tanah Jawa.

Nama Demak berasal dari kata "Dhimak" yang berarti rawa. Hal ini mengingat bahwa tanah Demak adalah tanah bekas rawa atau tanah berlumpur yang kemudian di keringkan dan di jadikan pemukiman. 

Raden Patah bersama para Wali Songo mendirikan masjid ini, dibuktikan dengan adanya Candra Sengkala memet yang berbunyi "Sarira Sunyi Kiblating Gusti" berwujud Bulus dan jika di terjemahkan berarti tahun 1401 Saka.

Selain itu bukti lain adalah adanya soko atau tiang yang berukuran besar dan tinggi sebagai pemopang atap masjid berjumlah 4 tiang. Masing-masing tiang soko guru tingginya sekitar 17 meter yang di sumbangkan oleh empat sunan/wali songo , diantaranya adalah Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati,  Sunan Bonang dan Sunan Kalijogo. Dari keempat soko guru ini, yang paling sering menjadi pokok bahasan adalah soko guru milik Sunan Kalijogo karena memiliki keunikan dalam proses pembuatannya tersusun dari potongan-potongan kayu yang kemudian di rekatkan dengan lem damar, diikat menjadi satu dan akhirnya membentuk soko guru yang besar dan sama kuat seperti soko yang lain.

Beratus-ratus tahun lamanya masjid tua berdiri kokoh sebagai simbol akulturasi dan toleransi kebudayaan Hindu-Islam. 
Akulturasi budaya sangatlah nampak pada seni arsitektur bangunan masjid agung demak. 


segi arsitektur masjid ini memiliki cerminan akulturasi budaya, Mulai dari atap masjid berbentuk limas terdiri dari tiga lapis bak seperti pure tempat peribadatan masyarakat hindu (meru beratap 3 lambang tri aksara simbol tri purusa ( 3 Siwa)). umumnya dalam Islam menggambarkan Islam, Iman, dan Ihsan. 

Masjid Agung Demak memiliki dua bangunan utama, yaitu bagian inti atau induk dan serambi. Pada bagian inti terdapat ornamen-ornamen hias berupa kramik hingga maksura.

Kramik yang tertempel di bagian dinding berasal dari tamu-tamu cina, saudagar-saudagar cina memberikan hadiah kepada sultan demak kala itu. Selain kramik terdapat pula maksura. 

Maksura adalah tempat yang dipergunakan oleh sultan atau raja untuk menunaikan ibadah sholat, 
Di sebelah maksuro di bagian dinding pengimamam masjid, terdapat simbol bintang yang menyerupai simbol Kerajaan Majapahit, Simbol itu dinamakan Suryo Majapahit. Dengan adanya simbol tersebut di bagian utama masjid Demak, menandakan bahwa Kasultanan Demak merupakan kelanjutan kerajaan Majapahit yang bercorak Islam. 

Gambar 3

Pada bagian depan bangunan induk terdpat serambi masjid, bangunan induk dengan serambi masjid dipisahkan oleh tiga puntu ukir.
Satu diantaranya memiliki cerita unik karena ukiran kepala naga dan selur-selur tumbuhan (asli disimpan di Museum). Konon pintu itu adalah pintu buatan Ki Ageng Selo yang dinamai pintu bledek (Petir). Konon, Ki Ageng Selo memiliki kesaktian bisa menangkap petir. Pintu kayu jati buatannya ini pun diyakini dapat berfungsi sebagai penangkal petir.

Gambar 4

Banyak orang menyebutnya serambi Masjid Agung Demak dengan sebutan Serambi Majapahit. Dinamakan demikian karena pada bagian serambi masjid terdapat delapan saka guru yang menyangga atap bangunan tersebut.
Delapan soko guru dihiasi oleh ukiran-ukiran khas Majapahit sehingga banyak masyarakat menyebut serambi Majapahit. Konon delapan soko guru tersebut berasal dari tiang penyangga pendopo di Kerajaan Majapahit kala itu. Karena adanya konflik antara Majapahit dan Demak yang mengakibatkan Majapahit runtuh, banyak benda-benda peninggalan Majapahit di bawa ke Demak,  salah satunya soko guru ini.

Gambar 5
Di bagian sisi belakang masjid Agung Demak terdapat deretan makam para tokoh pendirian Kasultanan Demak, Tiga makam utama yang ada di Makam Kasepuhan adalah Makam Raden Patah (Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo, Sultan Demak I), Raden Patiunus (Pangeran Sabrang Lor, Raja Demak II), dan Dewi Murthosimah permaisuri Raden Patah.
Dan satu di sisi sebelah selatan pintu masuk adalah makam Pangeran Benowo raja terahir Kasultanan Demak Bintaro.




Yuk belajar sejarah yang asik, menarik dan interaktif tanpa membuat bosan dengan cara berkunjung ke situsnya langsung...

Monggo kita rawat dan lestarikan warisan budaya kita.

Salam cagar budaya "Kunjungi, Lindungi, Lestarikan"


#demak #demakkotawali
#pesonademak #wonderfuldemak #demakhits #demakpiknik #belajarsejarah #GenpiJateng #yokdolanasik #2018

Rabu, 05 Desember 2018

Cintaku berlabuh di Candi Prambanan

"Keelokan Candi Prambanan"
By: ArioArdhi

Pagi di Candi Prambanan

Hay . . . Kawan bagaimana kabar kalian, sehatkan. 
Oh ya bentar lagi weekend nih, agenda kalian kemana mengisi waktu liburan ini???

Adakah yang pernah ke Jogja? Jika pernah ke Jogja, coba kalian sebutkan wisata apa saja yang ada di Jogja dan yang pernah kalian kunjungi?

Ups.... Pasti kalian menyebut candi megah nan eksotis yaitu Candi Prambanan dan Candi Borobudur kan??? 
Hayo... Ngaku deh... Hehe.... !!!

Oh ya kali ini saya akan bahas pengalaman saya berkunjung ke Candi Prambanan.... Simak ya... Siapa tau bisa jadi refrensi wisata Haristage di Yogyakarta.

Mengenal Candi Prambanan
Candi Prambanan tergolong candi unik karena kompleks Candi ini dimiliki oleh dua daerah yaitu bangunan kompleks candi utama berada di desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, D.I. Yogyakarta dan loket pintu masuk area Candi Prambanan berada di desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tenggah.
Candi ini merupakan Candi Hindu terbesar dan tercantik di Indonesia, bahkan se-Asia Tenggara. Candi megah nan agung yang berbahan dasar batu andesit tersebut dibangun sekitar abad ke-9.
Candi Prambanan merupakan candi agung yang dipersembahkan untuk dewa Siva (Siwa), sehingga ketika kita mengunjungi tempat ini kita lihat terdapat satu candi yang berukuran jauh lebih besar dan lebih megah.
Didalam kompleks Candi Prambanan kita mampu menjumpai banyak sekali pondasi candi kecil dan beberapa candi yang mampu di rekonstruksi ulang.
Terdapat 224 buah candi kecil atau candi perwara yang mengitari bangunan candi utama. Selain candi perwara terdapat bangunan candi terbesar yang bernama candi Siva(siwa). Di Candi Siwa terdapat empat arca yang mengisi ruang-ruang, salah satu arca yang terkenal adalah arca Durga. Durga merupakan istri dewa siwa.
Selain candi Induk terdapat candi Wahana (Kendaraan), Candi Apit dan Candi Kelir, keseluruhannya terdapat di satu kompleks prambanan.

Relief
Pernah kan masuk ke candi Induk, hayo coba kalian ceritakan apa saja yang mampu kalian diskripsikan dari hasil pengamatan kalian ketika mengunjungi candi ini.

Hehe ..... Ada banyak sekali cerita unik di tiap dinding candi ini. Salah satunya yang paling terkenal adalah cerita Ramayana. . .
Hayo sebelum saya lanjut ceritanya, apakah kalian sudah tau bagaimana cerita dari kisah Rama dan Shinta dalam kisah Ramayana???

Emmmm.... Ekspetasi kalian pasti bak sebuah filem disney yang endingnya happy ending???
Em... Bukan sih .. Malahan cerita dari kisah ramayana cukup menyayat hati, ibaratnya tuh habis di perjuangin trus di korbanin. Sakit baget bukan. Hehe
"Ups malah curhat aku"

Oh iya gini nih ceritanya:
One upon time. . . Haha serius ya...
Suatu hari di kerajaan langit 

Selasa, 04 September 2018

Lava Bantal "situs gunung api purba penyusun pulau Jawa"

Lava Bantal
"Situs gunung api purba penyusun pulau Jawa"



Begitulah orang-orang memanggilnya tempat ini, karena menyerupai bantal yang bertumpuk-tumpuk serasa adem bukan. banyak orang yang berfikiran bahwa lava ini empuk seperti bantal.... haha anggapan yang salah. itu tidak benar 100%. lava bantal sangat keras tersusun dari endapan magma bumi yang keluar dan mengendap selama ribuan tahun.


Lokasi:
Lava Bantal berlokasi di daerah Brebah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan kawasan Geoheritage yang tertua di Indonesia. 

Apa itu Geoheritage???
Geoheritage adalah situs atau area geologi yang memiliki nilai-nilai yang penting didalam keilmuan, pendidikan, budaya dan nilai estetika. (The Geological Society of America, 2012)
tempat ini dijadikan sebagai kawasan Geoheristage yang tertera dalam Surat Keputusan Badan Geologi No.1157.K/73/BGL/2014 tertanggal 02 Oktober 2014 tentang penentuan Kawasan Cagar Alam Geologi DIY.


Sejarah

Berdasarkan perkiraan umur Lava Bantal Berbah berumur sekitar 36 Juta tahun. Tanda-tanda lokasi ini bekas letusan gunung api purba bawah laut adalah diketemukan lelehan lava yang membeku, bertumpuk-tumpuk seperti bantal. 

Terdapat dua jenis batuan yang dapat kita lihat di sekitaran situs geoheristage ini, pertama adalah batuan hitam yang bertumpuk-tumpuk menandakan hasil dari lelehan lava panas yang membeku karena terkena air, kedua adalah batuan berwarna putih atau yang biasa di sebut dengan istilah batuan apung. Batu apung merupakan hasil material erupsi gunung api yang membeku ketika didalamnya masih terdapat udara sehingga mempunyai sifat titik berongga-rongga tersebar secara tidak merata. Batu apung mengandung silika tinggi, dan termasuk jenis batuan beku luar.

Lava Bantal disebut-sebut memiliki kontribusi besar terhadap terbentuknya Pulau Jawa. Proses pertemuan tersebut membuat lahar mengalami proses pembekuan. Fenomena ini cukup jarang ditemukan. Subandrio menambahkan, di Pulau Jawa fenomena alam seperti ini hanya ada di Karangsambung (Kebumen), Ciletuh (Jawa Barat), dan Yogyakarta. di yogyakarta memiliki keuntungan tersendiri karena lokasi yang mudah di jangkau yang berada di pinggir jalan alternatif Berbah, Sleman.

Retribusi
Sementara tiket masuk lokasi wisata Lava Bantal masih free, hanya saja dihimbau kepada masyarakat yang hendak mengunjungi lokasi Geoheristage ini harus menjaga kebersihan lingkungan wisata dengan cara tidak membuang sampah sembarangan dan dilarang merusak situs yang ada.

Monggo bagi para wisatawan yang hendak berwisata ke sini silahkan, tapi ingat jangan rusak warisan geoheristage ini yah.... salam konservasi.....


Batuan apung

Lava yang membeku berlekuk-lekuk bak seperti bantal

Lava yang membeku (hitam) dan batuan apung (putih)

Lava Bantal










Senin, 13 Agustus 2018

Candi Cetho

Hay gengs....
Ada agenda liburan???
Atau hanya berdiam diri di kost sambil mantengin layar hp berharap ada yang nyamperin dan ajak kalian piknik bagi yang jomblo. 😂😂😂😂

Baydowerrr pernah liburan kemana aja nih gaesss. . . Trus apakah liburan kalian bermanfaat bagi diri kalian atau teman yang kalian ajak piknik???

Oh ya gengsss gue punya refrensi asik piknik nih... Ndk hanya piknik nyegerin otak atau hati doang sih gaes... Tapi juga bisa tambah wawasan ilo gaes....

Pernah dengarkan cerita tentang Brawijaya V yang mengasingkan diri karena kerajaan Majapahit diserbu oleh Pasukan dari Demak???.

Nah... Yang akan kita prlajari kali ini adalah tentang situs peninggalan Raja Majapahit terakhir yaitu Brawijaya V di lereng Gunung Lawu.

Gini ceritanya:

Semua berawal dari Kerajaan Majapahit. Suatu ketika kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Brawijaya V mengalami kemrosotan karena beberapa faktor.

Adapun faktor yang melatar belakangi Majapahit runtuh adalah:

Kamis, 26 Juli 2018

Rumah kelelawar di Solo

Omah Lowo

Omah lowo... Biasa di sebut oleh masyarakat sekitar demikian. Tak asing bagi masyarakat Surakarta jika di tanya letak rumah tua yang dihuni oleh ratusan bahkan ribuan kelelawar itu.
Sebuah rumah tua, besar dan tampak tak terurus. Namun, ia masih megah berada di jantung kota Solo di Jalan Slamet Riyadi.

Dikutip dari situs m.republika.com, rumah yang terletak di perempatan Purwosari, tak jauh dari Stasiun Purwosari (sekitar 5 menit jalan kaki), ini memiliki banyak kisah sejarah.
Bangunan pada sisi temboknya bertuliskan Villa Liberty. 

Lokasi: 

Terletak di perempatan Purwosari,  berhafapan dua jalan utama yaitu Jalan Slamet Riyadi dengan Jalan Perintis Kemerdekaan. 

Oh ya apakah kalian tau sejarah dari omah lowo???  

Omah Lowo merupakan bangunan peninggalan Belanda pada abad ke-19. Tidak banyak sumber sejarah yang menyebut siapa yang pertama kali menghuni rumah seluas 1.500 meter persegi tersebut. Namun demi kian, ada catatan yang tertinggal dari rumah kelelawar ini. Pada 1945, Omah Lowo dimiliki keluarga Cina bernama Sie Djian Ho. Sie Djian Ho seorang sau dagar kaya penguasa bisnis penerbitan, per ke bunan, serta pemilik pabrik es di kota Solo.
Sejak kemerdekaan RI, Omah Lowo sempat dijadikan basis persembunyian para prajurit Indonesia untuk menahan laju serangan Belanda dan Inggris yang ingin kembali menguasai Pulau Jawa. Sempat juga dijadikan gedung veteran, Omah Lowo pada dekade 1980-an beralih fungsi jadi kantor haji dan kamar dagang kota Solo.
Omah Lowo berdiri di areal seluas 3.000 meter persegi. Meski telah banyak meng alami kerusakan, masih terlihat pola Eropanya. Atap langit-langit tinggi, ukuran daun pintu dan jendela setinggi tiga kali tinggi orang dewasa. Ada empat kamar tidur yang luas di dalamnya. Dua kamar di sisi kanan, dan yang dua lagi di sisi kiri dari arah pintu masuk, terpisah ruangan besar yang kemungkinan untuk ruang keluarga. Meski berstatus cagar budaya, kepemilikan Omah Lowo bukan atas nama pemerintah setempat. Sebab, untuk menebus rumah yang kini dimiliki seorang pengusaha itu.

Rumah ini memiliki empat kamar tidur yang luas, dua di sisi kanan dan dua lainnya di sisi kiri dari bangunan, masing-masing dipisahkan oleh dua buah ruangan yang luas. Dulunya kedua ruangan tersebut difungsikan sebagai ruang keluarga dan ruang tamu. Bangunan ini seperti halnya rumah kolonial pada umumnya, tidak memiliki kamar mandi di dalam rumah. Kamar mandi justru dibangun di samping kiri luar rumah yang berbentuk persegi tanpa genteng sebagai atapnya.Selain jendela, pintu dan beberapa arsitektur lainnya yang membuat tempat ini nampak heristage baget adalah ubin kunonya. Ubin kunonya terdapat lukisan selur tumbuhan yg unik, menandakan ke khasan bangunan megah di eranya. Di rumah lowo, kelelawar hidup bergelantungan di atap genting bagian dalam. Di pagi hingga sore menjelang malam kelelawar itu tidur dan terkadang terdengan suara ocehan kelelawar itu. Menjelang magrib, ribuan kelelawar keluar dari tempat peristirahatan mereka dan mencoba mencari peruntungan di malam hari. 
NB. Jika ke sini bawa masker ya gaes minimal bisa mengurangi bau kotoran kelelawar yg terhirup. Selain itu di usahakan pakai sepatu, kotorannya kemana-mana. 
Sumber : m.republika.com/omahlowo/solo
Itu beberapa cerita dan tips dari ku. Selamat berlibur sobat. 

Rabu, 25 Juli 2018

Wisata Heristage di Kota Gedhe

Dolan yok. . .

Haloooo gaes....
Bentar lagi weekend nih. . .
Piknik yuk. . . Piknik hemat dan berkualitas. Hehe
"Oh..." "ya"  ada yang pernah jalan-jalan ke Jogja???. . .
Coba hayokkk sebutkan nama-nama wisata yang ada di Jogja. . . Haha. Semalam pasti kalian gak akan mampu sebutin semuanya ya karena saking banyaknya.
.
Oh ya sobat, aku punya tempat refrensi ni piknik murah dan berkualitas ilo. . .
Hayo... Tebak gambar yang di atas dimana coba??? Haha.... "Bisa jawab kan...!!!"
"Ups..." "benar" itu adalah Petilasan bangunan Kraton Kotagedhe.
Tau atau tidak sih kalian jika bangunan itu punya banyak sekali sejarahnya, bahkan bangunan itu menyimpan banyak sekali cerita tentang cikal bakal kerajaan besar di tanah Jawa kala itu. . .
Ya.... Cikal bakal kerajaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat.
Gini nih sedikit cerita yah.....


Kyai Ageng Pemanahan bergelar "Kyai Ageng". Mataram atau yang sering disebut Hutan Mentaok adalah nama daerah hutan yang dihadiahkan kepadanya oleh Sultan Sultan Hadiwijoyo (Joko Tingkir), Sultan di Kerajaan Pajang (Sukoharjo). Karena Kyai Ageng Mataram bersama putranya Hangabehi Loring Pasar (Danang Sutowijoyo) telah dapat mengalahkan Raden Adipati Aryo Penangsang pada tahun 1527 M di Jipang Panolan.
Kyai Ageng Pemanahan selanjutnya minta ijin kepada Sultan untuk menempati daerah Mataram itu. Sultan Hadiwijoyo mengizinkan dan berpesan,” Seorang gadis dari Kalinyamat itu supaya diasuh dan dijaga baik-baik. Apalagi sudah dewasa hendaklah dibawa masuk ke Istana”.
Pesan itu disanggupi oleh Kyai Ageng Pemanahan, tetapi ia memohon agar diperkenankan mengajak putra Sultan Hangabehi Loring Pasar untuk pindah ke Mataram. Kyai Ageng Pemanahan sekeluarga berangkatlah menuju tlatah Mataram disertai dua orang menantunya, yakni Raden Dadap Tulis dan Tumenggung Mayang. Ditambah pula Nyi Ageng Nis istri Kyai Ageng Mataram dan penasehatnya Ki Ageng Juru Martani. Peristiwa ini terjadi pada hari Kamis Pon tanggal 3 Rabiulawal tahun Jimawal. Dalam perjalanan mereka singgah berziarah ke Istana Pengging sehari semalam.


Kyai Ageng sekeluarga melakukan doa dan sembahyang, memohon petunjuk kepada Tuhan, melakukan semedi dan shalat hajat, doanya ternyata diterima Tuhan, muncul pertanda pepohonan seketika menjadi condong, tetapi pohon serat tinggal tetap tegap. Setelah sembahyang subuh mereka berangkat menuju Mataram dan berhenti di desa Wiyoro. Selanjutnya membangun sebuah desa yakni desa Karangsari setelah singgah sementara waktu Kyai Ageng Pemanahan dan Ki Juru Mertani mencari pohon beringin yang telah ditanam oleh Sunan Kali Jogo untuk tetenger di sanalah letaknya wilayah Mataram dimaksud.
Terdapatlah pohon tersebut di sebelah barat daya Wiyoro. Lalu memilih tanah sebelah selatan beringin yang hendak dipakai sebagai halaman dan rumah untuk bertempat tinggal Kyai Ageng Pemanahan beserta keluarga. Mereka bekerja keras, hingga pembangunan rumah beliau selesai dalam waktu singkat. Kemudian rumah baru segera  ditempati Kyai Ageng Pemanahan yang kemudian tersohor namanya dengan gelar Kyai Ageng Mataram. Banyak saudara asing ke Mataram sehingga menambah ramai dan makmurnya Mataram (sekarang dikenal dengan nama Kotagede, pusat kerajinan perak di Yogyakarta).
Sahdan gadis pingitan Sinuhun Sultan Hadiwijoyo yang berasal dari Kalinyamat kini telah dewasa. Ngabehi Loring  Pasar (Raden Danang Sutowijoyo) pun telah dewasa. Ia mengganggu gadis pingitan tersebut. Hal ini segera diketahui oleh ayahnya Ki Ageng Mataram. Anaknya dipanggil lalu bersabda:
Ki Ageng Mataram; Anakku..mengapa kamu berani mengganggu gadis pingitan, alangkah amarahnya Sinuhun nanti apabila mengetahui.
Raden Sutowijoyo berkata; ”Saya berani melakukan hal itu, karena telah menerima wahyu.
KAM : Bagaimana kamu dapat mengatakan demikian itu ?
R.S : Ya. Demikianlah ketika mendengar daun nyiur jatuh ayah Sultan terkejut, lagi pula ketika hendak minum air kelapa itu terkejut pula.
Kyai Ageng Mataram menyatakan, kini belum masanya dan mengajak putranya mengharap untuk berjanji tetap setia. Keduanya berangkat, pergi ke kasultanan Pajang. Sinuhun Sultan Hadiwijoyo sedang bercengkerama dihadap para putranya dan keluarganya. Melihat kedatangan Kyai Ageng Mataram diantar putranya. Lalu sesudah berjabat tangan Ngabehi Loring Pasar pun menghadap menghaturkan sembah-bakti. Sinuhun bertanya dengan keheranan mengapa datang menghadap bukan waktunya menghadap. Kyai Ageng Mataram menyatakan bahwa menghadapnya itu karena putranya telah berdosa besar berani melanggar dan mengganggu gadis pingitan dari Kalinyamat.
Dengan bijaksana Sinuhun Sultan Hadiwijoyo berkata,”Anak tidak berdosa, kalau demikian memang salah saya, tidak memikirkan anak yang telah dewasa. Oleh karena sudah terlanjur kamipun ikut menyetujui. Tetapi anak jangan dimurka, pinta Sinuhun kepada Ki Ageng Mataram.
Waktu sudah berjalan sekian lama, karena usianya sudah uzur, Ki Ageng Mataram gering lalu mangkat pada hari Senin Pon 27 Ruwah tahun Je 1533. Dimakamkan di sebelah barat Istana Mataram di Kotagede, Yogyakarta. Sementara itu, Ki Jurumartani pergi ke negeri Pajang menghadapkan putra Ki Ageng Mataram. Sinuhun lalu bercengkerama dengan Ki Jurumartani memberitahukan tentang mangkatnya Ki Ageng Mataram, Sinuhun terkejut hatinya dan bersabda;
“Kakak Jurumartani, sebagai ganti dari penghuni Mataram ialah Ngabehi Loring Pasar dan harap dimufakati dengan nama Pangeran Haryo Mataram Senopati Pupuh”. Ki Jurumartani menyanggupi lalu mohon ijin kembali, peristiwa ini terjadi pada tahun 1540. Lalu Pangeran Haryo Mataram diangkat pada tahun Dal 1551 bergelar Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalogo yang menguasai tanah Jawa. Kemudian menurunkan raja-raja Surakarta dan Yogyakarta, demikian pula para Bupati di pantai-pantai Jawa hingga sekarang.
Kanjeng Panembahan Senopati memegang kekuasaan kerajaan 13 tahun lamanya. Sesudah gering kemudian mangkat, pada hari Jumat Pon bulan Suro tahun Wawu 1563. Dimakamkan di sebelah barat Masjid di bawah ayahandanya. Selanjutnya putranya yang menggantikan dengan gelar Kanjeng Susuhunan Prabu Hanyokrowati. Penobatannya dalam bulan yang bersamaan dengan wafatnya Kanjeng Panembahan Senopati.
Pada suatu hari, Kanjeng Susuhunan pergi berburu rusa ke hutan. Dengan tiada terasa telah berpisah dengan para pengantar dan pengawalnya, kemudian beliau diserang punggungnya oleh rusa dan beliau jatuh ke tanah. Sinuhun diangkat ke istana dan ia perintahkan memanggil kakanda Panembahan Purboyo.
Sinuhun bersabda, “Kakanda, andaikata kami sampai meninggal, oleh karena Gusti Hadipati sedang bepergian, putramu Martopuro harap ditetapkan sebagai wakil menguasai Negeri Mataram. Amanat tersebut disanggupi, Sinuhun terkenal dengan gelar Sinuhun Seda Krapyak. Beliau mangkat pada bulan Besar, tuhan Jimawal 1565 dan dimakamkan di sebelah bawah makan ayahandanya, Panembahan Senopati.
Demikian sejarah singkat kerajaan Mataram, yang sampai saat ini terbukti masih berdiri kokoh. Lalu dari keturunan manakah raja-raja besar Mataram ? inilah paparan silsilah  leluhur kerajaan Mataram:
  1. Sinuhun Brawijaya V, raja kerajaan Majapahit terakhir berputera Raden Bondan Kejawan yang   bergelar Kyai Ageng Tarub ke III
  2. Kyai Ageng Tarub III mempunyai putra yakni Kyai Ageng Getas Pandowo.
  3. Kyai Ageng Getas Pandowo berputera Ki Ageng  Selo.
  4. Kyai Ageng Selo berputera Ki Ageng Nis.
  5. Ki Ageng Nis berputera Ki Ageng Pemanahan (Ki Ageng Mataram).
  6. Ki Ageng Pemanahan berputera Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalogo.
  7. Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalogo berputera Sinuhun Prabu Hanyokrowati.
  8. Sinuhun Prabu Hanyokrowati berputera Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo Kalipatullah  Panetep Panatagama Senopati ing Prang (bersambung)

Suatu ketika 

PERUBAHAN SOSIAL DAN LEMBAGA SOSIAL

                                                  Interaksi Sosial   Pengertian Interaksi sosial adalah   hubungan timbal balik antara...