Kamis, 26 Juli 2018
Rumah kelelawar di Solo
Omah lowo... Biasa di sebut oleh masyarakat sekitar demikian. Tak asing bagi masyarakat Surakarta jika di tanya letak rumah tua yang dihuni oleh ratusan bahkan ribuan kelelawar itu.
Dikutip dari situs m.republika.com, rumah yang terletak di perempatan Purwosari, tak jauh dari Stasiun Purwosari (sekitar 5 menit jalan kaki), ini memiliki banyak kisah sejarah.
Omah Lowo merupakan bangunan peninggalan Belanda pada abad ke-19. Tidak banyak sumber sejarah yang menyebut siapa yang pertama kali menghuni rumah seluas 1.500 meter persegi tersebut. Namun demi kian, ada catatan yang tertinggal dari rumah kelelawar ini. Pada 1945, Omah Lowo dimiliki keluarga Cina bernama Sie Djian Ho. Sie Djian Ho seorang sau dagar kaya penguasa bisnis penerbitan, per ke bunan, serta pemilik pabrik es di kota Solo.
Rumah ini memiliki empat kamar tidur yang luas, dua di sisi kanan dan dua lainnya di sisi kiri dari bangunan, masing-masing dipisahkan oleh dua buah ruangan yang luas. Dulunya kedua ruangan tersebut difungsikan sebagai ruang keluarga dan ruang tamu. Bangunan ini seperti halnya rumah kolonial pada umumnya, tidak memiliki kamar mandi di dalam rumah. Kamar mandi justru dibangun di samping kiri luar rumah yang berbentuk persegi tanpa genteng sebagai atapnya.Selain jendela, pintu dan beberapa arsitektur lainnya yang membuat tempat ini nampak heristage baget adalah ubin kunonya. Ubin kunonya terdapat lukisan selur tumbuhan yg unik, menandakan ke khasan bangunan megah di eranya. Di rumah lowo, kelelawar hidup bergelantungan di atap genting bagian dalam. Di pagi hingga sore menjelang malam kelelawar itu tidur dan terkadang terdengan suara ocehan kelelawar itu. Menjelang magrib, ribuan kelelawar keluar dari tempat peristirahatan mereka dan mencoba mencari peruntungan di malam hari.
Rabu, 25 Juli 2018
Wisata Heristage di Kota Gedhe
Dolan yok. . .
Haloooo gaes....
Suatu ketika
Haloooo gaes....
Bentar lagi weekend nih. . .
Piknik yuk. . . Piknik hemat dan berkualitas. Hehe
"Oh..." "ya" ada yang pernah jalan-jalan ke Jogja???. . .
Coba hayokkk sebutkan nama-nama wisata yang ada di Jogja. . . Haha. Semalam pasti kalian gak akan mampu sebutin semuanya ya karena saking banyaknya.
.
Oh ya sobat, aku punya tempat refrensi ni piknik murah dan berkualitas ilo. . .
Hayo... Tebak gambar yang di atas dimana coba??? Haha.... "Bisa jawab kan...!!!"
"Ups..." "benar" itu adalah Petilasan bangunan Kraton Kotagedhe.
Tau atau tidak sih kalian jika bangunan itu punya banyak sekali sejarahnya, bahkan bangunan itu menyimpan banyak sekali cerita tentang cikal bakal kerajaan besar di tanah Jawa kala itu. . .
Ya.... Cikal bakal kerajaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat.
Gini nih sedikit cerita yah.....
Kyai Ageng Pemanahan bergelar "Kyai Ageng". Mataram atau yang sering disebut Hutan Mentaok adalah nama daerah hutan yang dihadiahkan kepadanya oleh Sultan Sultan Hadiwijoyo (Joko Tingkir), Sultan di Kerajaan Pajang (Sukoharjo). Karena Kyai Ageng Mataram bersama putranya Hangabehi Loring Pasar (Danang Sutowijoyo) telah dapat mengalahkan Raden Adipati Aryo Penangsang pada tahun 1527 M di Jipang Panolan.
Kyai Ageng Pemanahan selanjutnya minta ijin kepada Sultan untuk menempati daerah Mataram itu. Sultan Hadiwijoyo mengizinkan dan berpesan,” Seorang gadis dari Kalinyamat itu supaya diasuh dan dijaga baik-baik. Apalagi sudah dewasa hendaklah dibawa masuk ke Istana”.
Pesan itu disanggupi oleh Kyai Ageng Pemanahan, tetapi ia memohon agar diperkenankan mengajak putra Sultan Hangabehi Loring Pasar untuk pindah ke Mataram. Kyai Ageng Pemanahan sekeluarga berangkatlah menuju tlatah Mataram disertai dua orang menantunya, yakni Raden Dadap Tulis dan Tumenggung Mayang. Ditambah pula Nyi Ageng Nis istri Kyai Ageng Mataram dan penasehatnya Ki Ageng Juru Martani. Peristiwa ini terjadi pada hari Kamis Pon tanggal 3 Rabiulawal tahun Jimawal. Dalam perjalanan mereka singgah berziarah ke Istana Pengging sehari semalam.
Kyai Ageng sekeluarga melakukan doa dan sembahyang, memohon petunjuk kepada Tuhan, melakukan semedi dan shalat hajat, doanya ternyata diterima Tuhan, muncul pertanda pepohonan seketika menjadi condong, tetapi pohon serat tinggal tetap tegap. Setelah sembahyang subuh mereka berangkat menuju Mataram dan berhenti di desa Wiyoro. Selanjutnya membangun sebuah desa yakni desa Karangsari setelah singgah sementara waktu Kyai Ageng Pemanahan dan Ki Juru Mertani mencari pohon beringin yang telah ditanam oleh Sunan Kali Jogo untuk tetenger di sanalah letaknya wilayah Mataram dimaksud.
Terdapatlah pohon tersebut di sebelah barat daya Wiyoro. Lalu memilih tanah sebelah selatan beringin yang hendak dipakai sebagai halaman dan rumah untuk bertempat tinggal Kyai Ageng Pemanahan beserta keluarga. Mereka bekerja keras, hingga pembangunan rumah beliau selesai dalam waktu singkat. Kemudian rumah baru segera ditempati Kyai Ageng Pemanahan yang kemudian tersohor namanya dengan gelar Kyai Ageng Mataram. Banyak saudara asing ke Mataram sehingga menambah ramai dan makmurnya Mataram (sekarang dikenal dengan nama Kotagede, pusat kerajinan perak di Yogyakarta).
Sahdan gadis pingitan Sinuhun Sultan Hadiwijoyo yang berasal dari Kalinyamat kini telah dewasa. Ngabehi Loring Pasar (Raden Danang Sutowijoyo) pun telah dewasa. Ia mengganggu gadis pingitan tersebut. Hal ini segera diketahui oleh ayahnya Ki Ageng Mataram. Anaknya dipanggil lalu bersabda:
Ki Ageng Mataram; Anakku..mengapa kamu berani mengganggu gadis pingitan, alangkah amarahnya Sinuhun nanti apabila mengetahui.
Raden Sutowijoyo berkata; ”Saya berani melakukan hal itu, karena telah menerima wahyu.
KAM : Bagaimana kamu dapat mengatakan demikian itu ?
R.S : Ya. Demikianlah ketika mendengar daun nyiur jatuh ayah Sultan terkejut, lagi pula ketika hendak minum air kelapa itu terkejut pula.
Kyai Ageng Mataram menyatakan, kini belum masanya dan mengajak putranya mengharap untuk berjanji tetap setia. Keduanya berangkat, pergi ke kasultanan Pajang. Sinuhun Sultan Hadiwijoyo sedang bercengkerama dihadap para putranya dan keluarganya. Melihat kedatangan Kyai Ageng Mataram diantar putranya. Lalu sesudah berjabat tangan Ngabehi Loring Pasar pun menghadap menghaturkan sembah-bakti. Sinuhun bertanya dengan keheranan mengapa datang menghadap bukan waktunya menghadap. Kyai Ageng Mataram menyatakan bahwa menghadapnya itu karena putranya telah berdosa besar berani melanggar dan mengganggu gadis pingitan dari Kalinyamat.
Dengan bijaksana Sinuhun Sultan Hadiwijoyo berkata,”Anak tidak berdosa, kalau demikian memang salah saya, tidak memikirkan anak yang telah dewasa. Oleh karena sudah terlanjur kamipun ikut menyetujui. Tetapi anak jangan dimurka, pinta Sinuhun kepada Ki Ageng Mataram.
Waktu sudah berjalan sekian lama, karena usianya sudah uzur, Ki Ageng Mataram gering lalu mangkat pada hari Senin Pon 27 Ruwah tahun Je 1533. Dimakamkan di sebelah barat Istana Mataram di Kotagede, Yogyakarta. Sementara itu, Ki Jurumartani pergi ke negeri Pajang menghadapkan putra Ki Ageng Mataram. Sinuhun lalu bercengkerama dengan Ki Jurumartani memberitahukan tentang mangkatnya Ki Ageng Mataram, Sinuhun terkejut hatinya dan bersabda;
“Kakak Jurumartani, sebagai ganti dari penghuni Mataram ialah Ngabehi Loring Pasar dan harap dimufakati dengan nama Pangeran Haryo Mataram Senopati Pupuh”. Ki Jurumartani menyanggupi lalu mohon ijin kembali, peristiwa ini terjadi pada tahun 1540. Lalu Pangeran Haryo Mataram diangkat pada tahun Dal 1551 bergelar Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalogo yang menguasai tanah Jawa. Kemudian menurunkan raja-raja Surakarta dan Yogyakarta, demikian pula para Bupati di pantai-pantai Jawa hingga sekarang.
Kanjeng Panembahan Senopati memegang kekuasaan kerajaan 13 tahun lamanya. Sesudah gering kemudian mangkat, pada hari Jumat Pon bulan Suro tahun Wawu 1563. Dimakamkan di sebelah barat Masjid di bawah ayahandanya. Selanjutnya putranya yang menggantikan dengan gelar Kanjeng Susuhunan Prabu Hanyokrowati. Penobatannya dalam bulan yang bersamaan dengan wafatnya Kanjeng Panembahan Senopati.
Pada suatu hari, Kanjeng Susuhunan pergi berburu rusa ke hutan. Dengan tiada terasa telah berpisah dengan para pengantar dan pengawalnya, kemudian beliau diserang punggungnya oleh rusa dan beliau jatuh ke tanah. Sinuhun diangkat ke istana dan ia perintahkan memanggil kakanda Panembahan Purboyo.
Sinuhun bersabda, “Kakanda, andaikata kami sampai meninggal, oleh karena Gusti Hadipati sedang bepergian, putramu Martopuro harap ditetapkan sebagai wakil menguasai Negeri Mataram. Amanat tersebut disanggupi, Sinuhun terkenal dengan gelar Sinuhun Seda Krapyak. Beliau mangkat pada bulan Besar, tuhan Jimawal 1565 dan dimakamkan di sebelah bawah makan ayahandanya, Panembahan Senopati.
Demikian sejarah singkat kerajaan Mataram, yang sampai saat ini terbukti masih berdiri kokoh. Lalu dari keturunan manakah raja-raja besar Mataram ? inilah paparan silsilah leluhur kerajaan Mataram:
- Sinuhun Brawijaya V, raja kerajaan Majapahit terakhir berputera Raden Bondan Kejawan yang bergelar Kyai Ageng Tarub ke III
- Kyai Ageng Tarub III mempunyai putra yakni Kyai Ageng Getas Pandowo.
- Kyai Ageng Getas Pandowo berputera Ki Ageng Selo.
- Kyai Ageng Selo berputera Ki Ageng Nis.
- Ki Ageng Nis berputera Ki Ageng Pemanahan (Ki Ageng Mataram).
- Ki Ageng Pemanahan berputera Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalogo.
- Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalogo berputera Sinuhun Prabu Hanyokrowati.
- Sinuhun Prabu Hanyokrowati berputera Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo Kalipatullah Panetep Panatagama Senopati ing Prang (bersambung)
Suatu ketika
Langganan:
Postingan (Atom)
PERUBAHAN SOSIAL DAN LEMBAGA SOSIAL
Interaksi Sosial Pengertian Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara...

