INTERAKSI SOSIAL
Materi pelajaran IPS kelas VII
Tujuan Pembelajaran :
Setelah kegiatan pembelajaran dilaksanakan, peserta didik diharapkan dapat:
a. menjelaskan pengertian interaksi sosial;
b. menjelaskan syarat-syarat interaksi sosial;
c. menjelaskan bentuk interaksi sosial yang asosiatif;
d. menjelaskan bentuk interaksi sosial yang disosiatif;
e. menjelaskan pengaruh interaksi sosial terhadap pembentukan lembaga
sosial;
Prawacana
Ada nggak sih di antara kamu
yang nggak pernah berbincang dengan orang lain? Semua pasti
pernah dong, diskusi atau sekadar curhat tentang masalah kalian
masing-masing ke teman, orang tua, guru, atau bahkan dengan driver ojek online.
Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan interaksi karena pada hakikatnya
pasti membutuhkan peran manusia-manusia lainnya dalam kehidupan
sehari-hari. Contohnya, ketika kamu sedang drop karena
nilai-nilai mata pelajaran rendah, pastinya temanmu adalah tempat yang pas
untuk mencurahkan hati dan perasaan untuk kemudian mendapatkan saran. Sekarang,
supaya kamu lebih paham lagi, mari disimak ya penjelasan detailnya!
Definisi Interaksi
Sosial
Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial
yang dinamis yang menyangkut hubungan antara individu dengan individu, kelompok
dengan kelompok, ataupun individu dengan kelompok (menurut Gillin dan Gillin,
dikutip oleh Soerjono Soekanto). Pengertian lainnya dikemukan oleh Macionis,
dengan bahasa yang lebih sederhana. Interaksi sosial menurut Macionis adalah
proses di mana orang-orang beraksi dan bereaksi satu sama lain dalam suatu
relasi atau hubungan.
Siswa bertanya letak perpustakaan kepada seorang
guru atau mengobrol satu sama lain dapat kita kategorikan sebagai suatu
interaksi sosial, karena ada hubungan aksi reaksi antara kedua orang ini. Ini
termasuk interaksi sosial individu dengan individu. Interaksi sosial antar
kelompok dapat dicontohkan dengan pertandingan sepak bola antara dua
kesebelasan. Bentuk interaksi sosial antara individu dengan kelompok contohnya
adalah ketika guru sedang mengajar di dalam kelas. Guru merupakan individu, dan
siswa-siswinya dikategorikan sebagai satu kelompok.
Ciri-ciri interaksi sosial:
Interaksi sosial memiliki beberapa karakteristik
atau ciri-ciri. Berikut adalah ciri-ciri dalam interaksi sosial.
a. Jumlah pelaku lebih dari satu orang, hal ini karena interaksi membutuhkan aksi dan reaksi. Jika sesorang memberikan suatu aksi atau tindakan, agar dikatakan sebagai bentuk interaksi, tindakan tersebut haruslah direspon oleh orang lain.
b. Adanya komunikasi menggunakan simbol-simbol tertentu. Simbol yang paling umum digunakan untuk berkomunikasi adalah bahasa. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah simbol yang disampaikan haruslah dipahami oleh pihak-pihak yang berkomunikasi, agar komunikasi tersebut berjalan lancar.
c. Dalam interaksi sosial juga ada dimensi waktu, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa depan. Artinya dalam setiap interaksi sosial, ada konteks waktu yang menentukan batasan dari interaksi tersebut.
d. Adanya tujuan yang ingin dicapai. Pihak yang berinteraksi tentulah memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan juga bahwa ada tujuan-tujuan yang berbeda di antara pihak yang berinteraksi. Tujuan tersebut pun dapat menentukan apakah interaksi akan mengarah kepada kerja sama ataupun mengarah kepada pertentangan.
Faktor yang mempengaruhi interaksi sosial
Dalam proses terjadinya interaksi sosial, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Beberapa faktor tersebut antara lain adalah:
Imitasi
Imitasi adalah adalah tindakan seseorang meniru orang lain. Hal yang ditiru beragam bentuknya, misal gaya berpakaian, gaya berbicara, bahasa, dan sebagaimya. Contoh bentuk imitasi adalah ketika seorang anak meniru bahasa gaul seperti ashiappp, anjay, kuy, dan kata lainnya dari tokoh atau publik figure yang ada di televisi atau Youtube.
Sugesti.
Sugesti adalah semacam pandangan, sikap, atau
pendapat yang diberikan oleh seseorang, dan diterima oleh pihak lainnya. Contoh
dari sugesti adalah ketika seseorang membeli produk kecantikan setelah
terpengaruh oleh pandangan iklan di televisi yang mengatakan jika membeli
produk tersebut, wajah konsumen akan lebih bening dan bercerah.
Identifikasi.
Identifikasi adalah kecenderungan seseorang untuk
menjadi sama dengan orang lain. Hal ini lebih mendalam dari imitasi. Contoh
dari identifikasi adalah seseorang yang rela menghabiskan banyak uang untuk
operasi plastic agar tubuh dan wajahnya menyerupai Barbie atau artis idola
lainnya.
Simpati adalah keadaan di mana orang merasa tertarik
dengan pihak lainnya. Orang yang memiliki simpati akan lebih mudah merasakan
perasaan yang sedang dialami oleh pihak lain tersebut, misalnya ketika bencana
alam terjadi, seseorang turut merasakan kesedihan dari para korban bencana,
sekalipun orang tersebut tidak mengalami bencana secara langsung.
Bentuk simpati yang lebih mendalam dikenal dengan
istilah empati. Ketika berempati, seseorang cenderung menyertakan suatu
tindakan langsung yang menunjukkan rasa empatinya, misal dalan kasus bencana,
orang yang tidak terkena bencana tadi akan bersedia menjadi relawan di lokasi
bencana untuk menunjukkan rasa empatinya.
Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Dalam proses interaksi sosial, terdapat
syarat-syarat yang harus terpenuhi agar interaksi tersebut terjadi. Ada dua
syarat utama terjadinya interkasi sosial, yaitu kontak sosial dan komunikasi.
Kontak berasal dari bahasa Latin yaitu cum atau con yang artinya bersama-sama,
dan tango atau tangere yang artinya menyentuh. Jadi apabila diartikan secara
harafiah maka kontak berarti bersama-sama menyentuh. Meskipun secara harafiah diartikan
bersama-sama menyentuh, namun pada kenyataannya kontak yang terjadi tidak harus
selalu bersentuhan. Kontak sosial terjadi ketika ada aksi dan reaksi antar
pihak yang berkontak.
Kontak sosial menurut cara dan tingkatannya terbagi
menjadi dua, yaitu kontak sosial primer dan kontak sosial sekunder. Kontak
sosial primer adalah kontak sosial yang terjadi secara langsung bertatap muka,
misalnya berbicara, saling menyapa, dan bersalaman. Kontak sosial sekunder
merupakan kontak sosial yang terjadi melalui suatu perantara. Kontak sosial
sekunder pun terbagi menjadi dua, yaitu sekunder langsung dan sekunder tidak
langsung. Kontak sosial sekunder langsung terjadi ketika kedua pihak berkontak
menggunakan media secara langsung, misalnya bertelepon atau video call.
Kontak sosial sekunder tidak langsung adalah kontak
sosial yang terjadi ketika pihak yang berkontak menggunakan pihak ketiga untuk
berinteraksi, atau berinteraksi menggunakan media namun tidak secara langsung
berhubungan, misalnya saling mengirim surat. Menurut sifat atau bentuknya,
kontak sosial terbagi menjadi kontak sosial negatif dan kontak sosial positif.
Kontak sosial negatif merupakan kontak sosial yang mengarah ke pertentangan dan
merusak hubungan yang telah ada, misalnya perkelahian. Kontak sosial positif
adalah kontak sosial yang mengarah ke bentuk kerja sama dan memperkuat hubungan
yang ada, misalnya kegiatan kerja bakti.
Syarat yang kedua dari interaksi sosial adalah
komunikasi. Dalam komunikasi terjadi penyampaian dan pertukaran pesan. Dalam
komunikasi, terdapat lima unsur di dalamnya yaitu komunikator (pihak yang
menyampaikan pesan), komunikan (pihak yang menerima pesan), pesan, media, dan
efek atau pengaruh dari pesan yang disampaikan.
Bentuk Interaksi Sosial
Menurut Gillin dan Gillin, terdapat dua bentuk
interaksi sosial, yatu proses asosiatif dan proses disosiatif. Proses asosiatif
merupakan bentuk proses sosial yang mengarah kepada kerja sama antar pihak,
sedangkan proses disosiatif merupakan proses sosial yang mengarah kepada pertentangan
antara pihak yang terlibat. Proses asosiatif terdiri dari kerja sama,
akomodasi, dan asimilasi. Proses disosiatif terdiri dari persaingan,
kontravensi, dan konflik.
Bentuk Interaksi Sosial Asosiatif
1. Kerja sama
Kerja sama adalah salah satu bentuk proses asosiatif.
Kerja sama terjadi apabila pihak yang yang memiliki suatu kepentingan bersama
atau persamaan tujuan. Kerja sama juga sering disebut dengan istilah
cooperation. Beberapa wujud kerja sama antara lain adalah sebagai berikut.
a. Koalisi
Koalisi, yaitu bergabungnya dua atau lebih
organisasi yang memiliki kepentingan bersama. Contoh bentuk koalisi yang paling
umum adalah gabungan beberapa partai politik dalam suatu koalisi untuk
memenangkan pemilihan umum.
b. Barganing
Tawar-menawar atau bargaining, yaitu pelaksaan
perjanjian tukar menukar barang atau jasa antara dua pihak atau lebih. Pada
proses ini ada pertukaran sumber daya dalam bentuk tawar menarwa antar pihak
guna mencapai kesepakatan bersama.
c. Kooptasi
Kooptasi, yaitu proses penerimaan unsur-unsur baru
dalam suatu sistem organisasi. Tujuannya adalah untuk menjaga stabilitas
internal organisasi.
d. Joint Venture
Joint venture, yaitu kerja sama yang umumnya
dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dalam proyek tertentu. Umumnya, tujuan
dari joint venture adalah untuk meningkatkan pendapatan perusahaan yang
bersangkutan.
bentuk interaksi sosial asosiatif berupa koalisi
Bentuk interaksi sosial berupa koalisi antar partai pada pilpres 2019.
Bentuk yang kedua dari kerja sama adalah akomodasi.
Akomodasi adalah upaya untuk meredakan pertentangan yang terjadi. Tujuannya
adalah untuk mencapai keseimbangan dan mencegah membesarnya suatu pertentangan.
Berikut adalah bentuk akomodasi.
a. Koersi
Koersi atau coercion, yaitu bentuk akomodasi yang
dipaksakan atau proses akomodasi yang terjadi karena ada paksaan.
b. Kompromi
Kompromi, yaitu bentuk akomodasi di mana pihak yang
terlibat saling mengurangi tuntutan.
c. Arbitrasi
Arbitrasi, yaitu proses akomodasi yang mengundang
pihak ketiga yang lebih tinggi kedudukannya untuk membantu penyelesain masalah.
d. Mediasi
Mediasi, merupakan bentuk akomodasi yang menyerupai
arbitrasi, namun pihak ketiga hanya berperan sebagai pemberi nasihat dan tidak
memiliki wewenang untuk mengambil keputusan.
e. Konsiliasi
Konsiliasi, yaitu upaya mempertemukan kepentingan
pihak yang berselisih dan mencari penyelesaian bersama.
f. Toleransi
Toleransi, yaitu upaya akomodasi secara informal.
Masing-masing pihak saling bertoleransi demi pemulihan hubungan baik.
g. Stalemate
Stalemate, yaitu upaya akomodasi dengan
menyeimbangkan kekuatan pihak yang terlibat. Dengan berimbangnya kekuatan,
penyelesaian permasalahan dapat terjadi dengan sendirinya.
f. Ajudikasi
Ajudikasi, yaitu upaya akomodasi melalui pengadilan.
3. Asimilasi
Bentuk yang ketiga adalah asimilasi. Asimilasi
adalah percampuran dua budaya atau lebih dan menghasilkan budaya baru. Dalam
proses asimilasi, budaya baru yang terbentuk benar-benar berbeda dari budaya
yang ada sebelumnya. Proses asimilasi seringkali disamakan dengan proses
akulturasi, padahal sebenarnya berbeda. Proses akulturasi adalah proses di mana
dua budaya atau lebih saling berinteraksi, namun batasan-batasan perbedaan
budaya tidak hilang dan masing-masing budaya tetap mempertahankan keunikannya
masing-masing.
Bentuk Interaksi Sosial Disosiatif
Bentuk lain yang berlawanan dengan proses asosiatif
adalah proses disosiatif, yang mengarah kepada pertentangan. Berikut adalah
bentuk-bentuk proses disosiatif.
a. Persaingan
Persaingan atau kompetisi, yaitu proses dimana pihak
yang terlibat dari bersaing memperebutkan sesuatu. Hal yang diperebutkan
bermacam-macam bentuknya, misalnya keuntungan, sumber daya, status, dsb.
b. Kontravensi
Kontravensi, yaitu bentuk proses disosiatif yang
lebih tinggi dibanding persaingan, namun belum mencapai pertentangan. Beberapa
bentuk kontravensi adalah penolakan, penyangkalan, penghasutan, dan
pengkhianatan.
c. Konflik
Pertentangan atau konflik, yaitu proses disosiatif
di mana pihak yang terlibat berusaha mencapai tujuannya dengan upaya menantang
atau menyerang lawan, sekalipun dengan ancaman atau kekerasan. Menurut Soerjono
Soekanto, penyebab konflik antara lain adalah perbedaan individu, perbedaan
kebudayaan atau nilai, perbedaan kepentingan, dan perubahan sosial. Meskipun
lebih sering membawa dampak negatif seperti kerusakan materi dan korban jiwa,
konflik juga dapat membawa dampak positif. Dampak positif konflik adalah
semakin menguatnya solidaritas dalam satu kelompok karena adanya musuh bersama.
Sumber Referensi:
Macionis, J. J. (2008). Sociology 13th Edition. New
Jersey: Prentice Hall.
Setiadi, E., & Kolip, U. (2011). Pengantar
Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan
Pemecahannya. Jakarta: Prenadamedia Group.
Soekanto, S., & Sulistyowati, B. (2012).
Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Widiyatmoko, S. (2013). Sosiologi untuk SMA/MA kelas
X. Sidoarjo: Masmedia.


